Youtube Thumnail image of : TNI Diduga Pukul Warga yang Konvoi Bawa Bendera GAM

TNI Diduga Pukul Warga yang Konvoi Bawa Bendera GAM

Aceh Utara (RADARJABODETABEK) – Pada Kamis malam, 25 Desember 2025, terjadi insiden yang melibatkan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan warga yang melakukan konvoi membawa bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh Utara. Dugaan pemukulan oleh TNI terhadap warga yang berkonvoi tersebut menjadi sorotan karena terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial, khususnya pada akun Instagram @acehspeakup dan @acehworldtimes.

Insiden dan Kronologi Kejadian

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah personel TNI berpakaian loreng melakukan tindakan kekerasan dengan memukul demonstran menggunakan tangan kosong, ujung senapan laras panjang, popor senjata laras panjang, dan tendangan kaki di samping truk konvoi. Peristiwa ini terjadi malam hari di dekat kantor Bupati Aceh Utara.

Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh, Azharul Husna, mengonfirmasi bahwa pemukulan tersebut terjadi saat konvoi sampai di depan kantor Bupati Aceh Utara. Menurutnya, ada tindakan represif dari TNI terhadap para pengunjuk rasa.

Latar Belakang Konvoi dan Tuduhan Kekerasan

Konvoi yang diikuti oleh sekitar 600 orang pemuda ini membawa atribut berupa bendera bulan bintang khas GAM. Mereka menyampaikan kekecewaan atas penanganan bencana oleh pemerintah pusat melalui aksi ini.

Menurut Azharul Husna, pembubaran konvoi ini bukan pertama kali terjadi. Pekan sebelumnya juga telah ada penyisiran terhadap truk-truk pembawa bantuan yang menggunakan atribut GAM.
Ia menyesalkan terjadinya kekerasan karena menurutnya, dalam situasi kekecewaan, penyelesaian seharusnya ditempuh secara humanis, bukan melalui kekerasan.

Reaksi Resmi TNI dan Penjelasan Pusat Penerangan

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal Freddy Ardianzah, memberikan pernyataan yang menyesalkan beredarnya video dan narasi yang dianggap menyudutkan institusi TNI. Freddy menegaskan bahwa informasi tersebut tidak akurat dan dapat menyesatkan publik.

Freddy menjelaskan bahwa penyisiran terhadap konvoi dilakukan mulai siang hari tanggal 25 Desember hingga dini hari 26 Desember. Razia dilakukan secara gabungan dengan Polri untuk mencegah eks kombatan GAM melakukan konvoi dan antisipasi pembentangan bendera bulan bintang yang dipasang di tiang bambu serta kendaraan roda empat.

Menurut Freddy, terjadi gesekan antara aparat keamanan dan massa konvoi di Lhokseumawe pada saat pembubaran. Ia mengklaim bahwa aparat keamanan mendapat provokasi dari massa yang mendorong dan memukul petugas, sehingga Kapolres Kota Lhokseumawe dan Dandim 0103 mengalami luka akibat pemukulan.

Kesepakatan damai pada akhirnya tercapai setelah dilakukan pendekatan persuasif dan mediasi antara massa konvoi dan aparat gabungan.

Pendekatan Humanis dan Stabilitas Keamanan Pascabencana

Freddy menegaskan bahwa TNI, pemerintah daerah, dan aparat keamanan akan mengedepankan pendekatan dialog, persuasif, dan humanis. Tujuan utamanya adalah meredam potensi konflik, menjaga stabilitas keamanan, dan memastikan masyarakat Aceh fokus pada pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi pascabencana.

Insiden ini menjadi perhatian serius terkait hak asasi manusia dan perlakuan terhadap demonstran. Pembaca dapat mempelajari lebih lanjut tentang hak asasi manusia untuk memahami perspektif hukum dan etika dalam konteks seperti ini.

Untuk konteks lebih luas mengenai sejarah konflik dan perdamaian di Aceh, pembaca dapat mengunjungi artikel terkait kami sebelumnya seperti 20 Tahun Perdamaian Aceh: Bertemu Hasan Tiro.

Situasi kompleks di Aceh masih menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan harmoni sosial setelah bertahun-tahun mengalami konflik. Pendekatan yang seimbang dan humanis menjadi kunci dalam menjaga perdamaian kerakyatan.

Sumber: RADARJABODETABEK, YouTube Channel resmi Tempodotco

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *