Kutip Dialog Mandra, Komjen Chryshnanda: Polisi Jangan Nyakitin
[Jakarta (RADARJABODETABEK)] 6 Oktober 2025 menjadi momen penting dalam upaya reformasi kepolisian di Indonesia. Komisaris Jenderal Chryshnanda Dwilaksana, Ketua Tim Transformasi Reformasi Polri, mengajak seluruh anggota Polri untuk mengedepankan sikap rendah hati dan tidak menyakiti masyarakat dalam melaksanakan tugasnya. Pernyataan ini disampaikan dalam seminar nasional reformasi kepolisian yang berlangsung di Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia.
Reformasi Polri: Pentingnya Sikap Melayani dan Melindungi
Komjen Chryshnanda menekankan bahwa reformasi Polri bukan sekadar perombakan struktural, tetapi juga perubahan budaya dan sikap yang harus melekat pada setiap anggota polisi. Ia mengutip dialog ikonik dari karakter Mandra dalam sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan yang berbunyi, sombong amat dan nyakitinsemua, sebagai pengingat bahwa polisi seharusnya tidak bersikap arogan dan menyakiti hati masyarakat.
Melalui pesan tersebut, Komisaris Jenderal Chryshnanda mengajak polisi untuk menghentikan sikap sombong, kebohongan, dan tindakan yang menyakiti masyarakat, serta mengedepankan pelayanan yang tulus untuk melindungi warga negara. Upaya ini adalah bagian penting dari agenda reformasi yang tengah berjalan untuk menciptakan keamanan yang damai, bukan rasa takut dan mencekam.
Membedakan Dua Tim Reformasi Polri
Tim Transformasi Reformasi Polri yang diketuai oleh Komjen Chryshnanda berbeda dari tim reformasi yang akan dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto. Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa Presiden Prabowo akan mengumumkan tim reformasi Polri yang dibentuk pemerintah pada pekan berikutnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa upaya reformasi Polri di Indonesia melibatkan berbagai pihak dan perspektif, dengan fokus utama adalah memastikan Polri dapat menjalankan tugasnya dengan serius dan berintegritas demi kesejahteraan masyarakat.
Konsekuensi Kerusuhan dan Penanganan di Polri
Konteks seruan reformasi ini tidak terlepas dari gelombang demonstrasi hingga kerusuhan yang terjadi pada 25-31 Agustus 2025 di berbagai daerah di Indonesia. Dalam peristiwa tersebut, polisi menetapkan 959 orang sebagai tersangka, termasuk 295 anak-anak. Hal ini menambah pentingnya evaluasi dan pembaruan dalam kinerja dan pendekatan Polri agar mendekatkan diri pada konsep pelayanan kepada masyarakat.
Sebagai rujukan mengenai struktur dan fungsi Polri, pembaca dapat merujuk ke sumber dari Wikipedia tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia di https://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_National_Police untuk memahami lebih dalam sejarah dan peran institusi ini.
Upaya Nasional Dalam Reformasi Polri
Seminar nasional di Universitas Indonesia tersebut menjadi cerminan komitmen serius untuk membangun Polri yang profesional dan dekat dengan masyarakat. Reformasi ini sejalan dengan prinsip melayani dan melindungi yang diamanahkan kepada Polri, agar masyarakat merasa aman tanpa rasa takut berlebihan.
Dalam pembahasan terkait reformasi polisi, pengunjung bisa melihat perkembangan dan tantangan serupa dalam agenda negara lain, misalnya seperti yang pernah disampaikan dalam tulisan-writings di Berita Terkini di https://radarjabodetabek.id/category/berita-terkini/, yang membahas dinamika keamanan dan reformasi institusional.
Kesimpulan
Pesan yang disampaikan oleh Komjen Chryshnanda Dwilaksana melalui kutipan dialog Mandra memiliki makna yang sangat dalam bagi perjalanan reformasi Polri. Sikap hormat, rendah hati, dan pelayanan tanpa menyakiti menjadi pondasi penting agar institusi kepolisian dapat membangun kepercayaan masyarakat.
Dengan niat tulus untuk melayani dan melindungi, Polri diharapkan mampu menjadi pelindung yang dipercaya oleh seluruh rakyat Indonesia.
Sumber: RADARJABODETABEK, YouTube Channel resmi Tempodotco
