Jakarta (RADARJABODETABEK) – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, telah menimbulkan dampak yang sangat besar tidak hanya bagi manusia tetapi juga bagi satwa liar. Hingga 18 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat korban jiwa mencapai 1.059 orang. Namun, korban dari bencana ini ternyata juga termasuk satwa langka seperti orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).
Dampak Bencana Terhadap Satwa Liar di Sumatera
Bencana ini tidak hanya mengambil korban manusia, juga mengancam keberadaan satwa liar di hutan-hutan Sumatera. Orang utan Tapanuli, yang merupakan salah satu spesies kera terbesar dan terancam punah di dunia, menjadi salah satu korban bencana tersebut.
Salah satu pendiri Kelompok Pecinta Alam Forester (KPA Forester), Decky Chandrawan, yang bertugas dalam Tim SAR, melaporkan bahwa pada 3 Desember 2025, tim melakukan penyisiran korban di wilayah Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Dalam proses tersebut ditemukan satu individu orang utan Tapanuli yang telah meninggal dunia di Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pentingnya Konservasi dan Penanganan Bencana
Orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies unik yang hanya ditemukan di wilayah tertentu di Sumatera. Kehilangan individu tentu berdampak pada upaya konservasi yang sudah berjalan.
Alih fungsi hutan yang terus terjadi di banyak wilayah menambah tekanan terhadap habitat satwa liar ini. Bencana alam seperti banjir dan longsor semakin memperparah kondisi mereka, mengancam kelangsungan hidup spesies yang sudah terancam punah.
Tim SAR dan organisasi lingkungan terus berupaya melakukan evakuasi dan pemantauan agar dampak bencana tidak semakin merusak populasi satwa liar. Keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk memperkuat langkah konservasi ini.
Peran Tim SAR dan KPA Forester
Tim SAR yang terdiri dari para relawan hingga pecinta alam seperti KPA Forester memiliki peran krusial dalam misi penyelamatan. Selain melakukan pencarian dan evakuasi korban manusia, mereka juga berupaya menyelamatkan satwa yang terdampak bencana.
Laporan dan data yang mereka kumpulkan menjadi sumber penting dalam merumuskan strategi respons bencana dan penyelamatan satwa liar di masa depan.
Upaya Pemerintah dan Komunitas dalam Mitigasi Bencana
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) aktif mengkoordinasi bantuan dan penanggulangan bencana di wilayah terdampak. Namun, keterlibatan masyarakat serta organisasi lingkungan menjadi kunci keberhasilan penanganan dampak buruk bencana tersebut.
Penting juga melihat hubungan erat antara ekosistem hutan, kelestarian satwa liar, dan mitigasi bencana alam. Kerusakan lingkungan tidak hanya membahayakan fauna, tetapi juga meningkatkan risiko bencana bagi manusia.
Berkaca dari peristiwa seperti ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, komunitas lokal, dan lembaga konservasi dalam menjaga kelestarian alam agar bencana di masa depan tidak menimbulkan kerugian berlipat bagi semua makhluk hidup.
Sumber-sumber Referensi Tambahan
Informasi terkait selain dari video resmi yang disiarkan di TEMPO.CO dan laporan resmi BNPB. Untuk pemahaman lebih lanjut tentang bencana alam dan dampaknya terhadap lingkungan, kunjungi juga artikel-artikel di Radar Jabodetabek.
Sumber: RADARJABODETABEK, YouTube Channel resmi Tempodotco
