Jakarta (RADARJABODETABEK) – Penelitian mutakhir dari tim ilmuwan yang terdiri atas Monash University, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), dan Australian Centre for Neutron Scattering (ANSTO) mengungkap mekanisme baru pembentukan bongkahan emas di bawah permukaan bumi. Mereka menemukan bahwa getaran akibat gempa bumi dapat memicu pembentukan emas berukuran besar hanya dalam hitungan detik di dalam urat kuarsa.
Selama ini, pemahaman umum dalam ilmu geologi menyebutkan bahwa emas berasal dari larutan fluida panas yang mengalir melalui rekahan batuan. Namun, fakta bahwa jumlah emas terlarut dalam fluida tersebut sangat kecil membuat mekanisme ini belum mampu menjelaskan munculnya bongkahan emas yang masif dalam urat kuarsa. Studi ini menawarkan penerangan baru yang mampu menjawab misteri tersebut.
Peran Kuarsa dan Muatan Listrik dalam Pembentukan Emas
Penelitian ini memfokuskan pada peran kuarsa, mineral silika yang umum ditemukan dalam kerak bumi dan terkenal dengan sifat piezoelektriknya, yaitu kemampuan menghasilkan muatan listrik saat diberi tekanan mekanis. Saat gempa bumi mengguncang dan memberikan tekanan ekstrem secara mendadak, muatan listrik besar dihasilkan di dalam urat kuarsa tersebut.
Muatan listrik ini kemudian bertindak sebagai magnet yang menarik atom-atom emas yang terlarut dalam larutan bawah tanah, menghisapnya dan mengendapkannya secara cepat membentuk bongkahan emas yang besar. Proses ini menunjukkan bagaimana gempa bumi yang pada umumnya dianggap sebagai bencana alam juga dapat memiliki dampak geologis yang positif.
Implikasi terhadap Industri Pertambangan dan Penelitian Geologi
Pemahaman baru ini dapat mengubah pendekatan dalam eksplorasi emas. Dengan memahami bahwa gempa bumi mampu mempercepat pembentukan emas, para peneliti dan perusahaan pertambangan dapat mempertimbangkan daerah-daerah rawan gempa sebagai target potensial untuk penambangan emas. Ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang lebih mengandalkan deteksi fluida panas dan rekahan batuan.
Pertimbangan ini tentu sejalan dengan laporan terkini terkait aktivitas gempa di wilayah Indonesia, seperti pada kasus gempa magnitudo 6.0 di Kabupaten Poso yang pernah kami liput sebelumnya di artikel terkait. Pemahaman terkait gempa dan dampaknya menjadi aspek vital dalam mitigasi bencana sekaligus pengembangan sumber daya alam.
Studi Lebih Lanjut dan Potensi Penemuan Baru
Para peneliti dari Monash University, CSIRO, dan ANSTO menggunakan teknik pemindaian neutron dan simulasi geofisika untuk mengamati proses ini secara real time. Temuan ini membuka peluang riset lebih lanjut dalam bidang geologi dan fisika mineral, yang sebelumnya belum terjangkau secara eksperimen dengan cara konvensional.
Kemampuan gempa bumi untuk berkontribusi pada pembentukan emas mengubah paradigma lama dan dapat berdampak pada kebijakan eksplorasi mineral. Lebih dari itu, mekanisme ini menguatkan pentingnya integrasi ilmu fisika dalam studi geologi mineral berbasis pada fenomena alam.
Untuk informasi lebih lengkap tentang gempa bumi, pembaca dapat merujuk pada halaman Wikipedia tentang Gempa Bumi. Selain itu, kami juga menyarankan untuk membaca artikel lain kami berkaitan dengan fenomena gempa bumi di Indonesia, yang dapat ditemukan di kategori Jakarta.
Sumber: RADARJABODETABEK, YouTube Channel resmi Tempo.co
